Mengapa (beberapa) Anak/Remaja Lebih Rentan untuk Tergabung ke dalam Komunitas Radikalisme Kekerasan dan Melakukan Kekerasan?
Menurut Nathanael E. J. Sumampouw, M.Psi., Ph.D., Psikolog yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PP APSIFOR Periode 2023-2027, terdapat interaksi sejumlah faktor internal dan eksternal yang dapat meningkatkan kerentanan seorang anak melakukan kekerasan. Sebagai contoh adalah "ECO-CHAMBER SOSIAL MEDIA" - "ruang gema sosial media", yang menurut Beliau merupakan sebuah fenomena ketika kehidupan offline bermasalah, anak mulai mencari jawaban atas apa yang terjadi melalui dunia digital. Fenomena ini menyebabkan anak memiliki perasaan “relate” atau keterhubungan mereka dengan konten–konten yang terdapat di sosial media. Algoritma yang terdapat dalam media sosial, seringkali menyebabkan anak/remaja dapat menghabiskan waktu berlama-lama. Selain itu, secara alami, anak/remaja juga cenderung mengikuti (follow) akun, berteman, atau bergabung dengan komunitas yang setuju dengan pandangan mereka, dan memblokir atau unfollow akun yang dinilai berbeda pandangan. Bukan hanya itu, mereka juga memiliki sifat dasar manusia yang lebih mudah menerima informasi yang mendukung keyakinannya. Selanjutnya, anak/remaja akan semakin rentan memiliki pikiran dan perilaku ekstrem, menganggap sudut pandang yang berbeda sebagai ancaman atau kebohongan. Meskipun ditemukan adanya sejumlah data atau fakta ilmiah yang valid, anak/remaja yang terjebak dalam "echo chamber", akan sulit menerima fakta baru bahkan cenderung menolak fakta tersebut karena tidak dinilai tidak sesuai dengan narasi yang didapatkan mereka melalui sosial media (kelompok). Selain fenomena "echo chamber", menurut Nathanael terdapat faktor risiko lainnya seperti pengalaman masa kecil yang buruk (adverse childhood experiences/ACEs), tekanan emosional akibat peristiwa dalam hidup, perundungan, dan paparan kekerasan.
Dalam kesimpulannya, menurut Nathanael, anak-anak yang terlibat dalam komunitas radikalisme kekerasan sejatinya adalah KORBAN. Kombinasi multifaktor, termasuk perkembangan psikososial mereka sebagai anak dan remaja, yang diakselerasi oleh media sosial (perasaan “relate”, diterima, dan mendapatkan validasi) menyebabkan mereka semakin rentan menjadi agresif dan terlibat dalam kekerasan. Oleh karena itu, perilaku menyimpang pada anak-anak yang tergabung dalam kelompok ekstremis tidak selalu harus secara aktif “dilawan”, karena perilaku tersebut akan cenderung berkurang dan tidak relevan ketika kebutuhan anak dipenuhi dan mereka memiliki keterampilan yang diperlukan.
Share This News